Bekasi (21/08/2026) — “Aku tuh nggak punya kelebihan.”
Jawaban seperti itu masih terdengar ketika peserta didik SMP Adisa, Bantargebang, diminta menceritakan kemampuan yang mereka miliki. Sebagian peserta justru lebih cepat menyebutkan kekurangan dirinya dibandingkan hal-hal yang menjadi kelebihan mereka.
Hal tersebut perlahan berubah setelah mereka mengikuti rangkaian kegiatan PEDAL JUARA. Melalui berbagai permainan, tantangan, dan aktivitas langsung, peserta diajak untuk mengenali dirinya sekaligus melihat bahwa kemampuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar.
Salah satunya dilakukan melalui Kartu Siapa Aku. Lewat kartu tersebut, peserta mulai diajak menyebutkan hal-hal yang mereka sukai, kemampuan yang dimiliki, serta karakter yang ada dalam dirinya. Bagi beberapa anak, menyebutkan satu kelebihan diri sendiri ternyata menjadi tantangan tersendiri.
PEDAL JUARA menggunakan pendekatan experiential learning, sehingga peserta tidak hanya menerima materi, tetapi langsung mencoba dan merasakan prosesnya. Ketika menghadapi sebuah tantangan, misalnya, mereka diberi kesempatan untuk menyelesaikannya sendiri. Jika belum berhasil, mereka kembali mencoba.
Dari situ, pelajaran tentang resiliensi muncul secara sederhana. Mereka belajar bahwa gagal sekali bukan berarti harus berhenti. Begitu pula dengan kepercayaan diri. Keberanian untuk menjawab pertanyaan, berbicara di depan teman, menunjukkan hasil karya, sampai berinteraksi dengan orang lain menjadi bagian dari proses mereka untuk semakin yakin pada kemampuan sendiri.
Pengalaman itu juga hadir ketika peserta diajak membuat produk dari limbah. Tutup botol plastik bekas yang mereka dapatkan dari pengumpul di sekitar sekolah diolah menjadi gantungan kunci. Benda yang sebelumnya mereka kenal sebagai sampah kemudian menjadi hasil karya yang bisa digunakan dan dijual.
Ketika ada orang yang tertarik dan menghargai hasil karya tersebut, muncul rasa bangga yang berbeda. Mereka tidak hanya belajar soal lingkungan dan cara berwirausaha, tetapi juga melihat bahwa sesuatu yang mereka buat sendiri ternyata memiliki nilai.
Hal-hal kecil seperti itu yang kemudian membuat peserta mulai mengenali potensi dirinya. Ada yang menemukan bahwa dirinya senang membuat sesuatu, ada yang semakin berani berbicara, ada pula yang mulai menunjukkan ketekunan ketika menyelesaikan tugas.
Perubahan tersebut tidak terjadi dalam satu kegiatan. Selama kurang lebih dua bulan, keberanian-keberanian kecil itu terus muncul. Peserta yang sebelumnya masih ragu mulai lebih sering menjawab dan berinteraksi. Mereka juga semakin terbuka untuk menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan.
Puncaknya terlihat dalam kegiatan penutupan Gema Masa Depan. Kali ini, peserta tidak lagi diminta memikirkan siapa dirinya saat ini, tetapi siapa yang ingin mereka menjadi sepuluh tahun lagi.
Melalui Papan Impian Masa Depan, mereka menuliskan dan menggambarkan berbagai keinginan. Ada yang membayangkan pendidikan yang ingin ditempuh, pekerjaan yang ingin dimiliki, kehidupan yang ingin dijalani, hingga harapan untuk membuat keluarga bangga dan memiliki kehidupan yang lebih baik.
Suasana menjadi emosional ketika beberapa peserta menangis saat membayangkan dirinya berhasil di masa depan.
Tangisan itu bukan karena mereka sedang mengalami kesedihan. Justru sebaliknya, untuk pertama kalinya mereka sedang membayangkan sebuah kemungkinan: bahwa suatu hari nanti, mereka juga bisa berhasil.
Mimpi yang sebelumnya mungkin terasa jauh perlahan menjadi sesuatu yang berani mereka tuliskan. Mereka sudah merasakan sendiri bahwa mereka bisa mencoba, bisa menghadapi kesulitan, dan bisa menghasilkan sesuatu.
Bagi PEDAL JUARA, proses tersebut menjadi pengingat bahwa membangun kepercayaan diri anak tidak selalu dimulai dari nasihat panjang. Terkadang, cukup dengan memberi mereka ruang untuk mencoba, gagal, mencoba lagi, dan akhirnya berkata pada diri sendiri, “Ternyata aku bisa.”

















