BOGOR — Pengelolaan sampah di Desa Bojongjengkol, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, mulai diarahkan pada sistem yang tidak hanya berfokus pada pembuangan, tetapi juga memastikan sampah dapat dikelola, dimanfaatkan kembali, dan menghasilkan nilai. Melalui pendekatan rantai pasok sirkular, masyarakat mulai membangun alur pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Sistem tersebut dikembangkan melalui Program SASAMA (Sinergi Aksi Sampah Masyarakat) yang dijalankan Tim PPK Ormawa BEM FEM IPB University. Masyarakat tidak hanya diajak untuk membuang sampah pada tempatnya, tetapi didorong untuk memahami bahwa setiap jenis sampah memiliki jalur pengelolaan dan potensi pemanfaatan yang berbeda.
Dalam sistem yang dikembangkan, sampah terlebih dahulu dikumpulkan dan dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik kemudian diarahkan untuk diolah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali, seperti maggot dan kompos, sementara sampah anorganik yang masih bernilai diproses melalui pencacahan dan pengembangan produk daur ulang.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pemilahan. Setiap material diarahkan untuk masuk ke dalam rantai pemanfaatan yang sesuai, sehingga potensi sampah dapat dimaksimalkan sebelum menjadi residu.
![Gambar 2. Aktivitas pengolahan sampah, dapat berupa pencacahan plastik atau pengolahan organik/maggot]](https://libertamedia.com/wp-content/uploads/2026/09/2.png)
Dari Pemilahan Menuju Rantai Nilai
Pendekatan rantai pasok sirkular membuat pengelolaan sampah di Bojongjengkol tidak berdiri sebagai kegiatan yang terpisah-pisah. Setiap tahapan dirancang untuk saling terhubung, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pengolahan, pemanfaatan, hingga pengembangan nilai ekonomi.
Membangun Sistem dari Hulu hingga Hilir
Penguatan sistem juga dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam setiap mata rantai. Warga tidak hanya berperan sebagai penghasil sampah, tetapi juga menjadi bagian dari proses pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga pengembangan produk.
Di sisi lain, hasil pengolahan sampah mulai diarahkan untuk memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Produk yang dihasilkan dapat dikembangkan melalui kegiatan usaha masyarakat, sehingga pengelolaan sampah tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
![Gambar 3. Hasil pengolahan/produk dan warga atau pelaku usaha]](https://libertamedia.com/wp-content/uploads/2026/09/3.png)
Salah satu contoh pengembangan tersebut terlihat dari praktik pembuatan gantungan kunci berbahan plastik cacahan. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana material yang telah melalui proses pengelolaan dapat kembali digunakan sebagai bahan baku produk.
Namun, gantungan kunci hanyalah salah satu contoh dari rantai pemanfaatan yang sedang dikembangkan. Ke depan, berbagai material hasil pengolahan dapat terus dikembangkan menjadi produk dan kegiatan usaha lain sesuai potensi masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal membuang atau memilah. Ada proses setelahnya yang bisa memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar perwakilan Tim SASAMA, Muhammad Khairul Afandi.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah berbasis rantai pasok sirkular, di mana masyarakat, proses pengolahan, dan kegiatan usaha saling terhubung dalam satu alur.
Sampah organik tidak langsung menjadi residu, tetapi diarahkan menjadi maggot dan kompos. Sampah anorganik tidak hanya dikumpulkan, tetapi diproses menjadi material dan produk bernilai tambah. Hasil pengolahan kemudian dapat kembali dimanfaatkan atau dikembangkan melalui kegiatan ekonomi masyarakat.
Dengan sistem tersebut, pengelolaan sampah diharapkan mampu memberikan manfaat ganda: mengurangi beban lingkungan, memperpanjang masa guna material, sekaligus menciptakan peluang nilai ekonomi bagi masyarakat.
SASAMA menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi di Desa Bojongjengkol. Bukan hanya tentang bagaimana sampah dibuang, tetapi tentang bagaimana sampah dikelola sejak dari sumbernya hingga kembali memberikan manfaat.
Sampah dikumpulkan.
Sampah dipilah.
Organik diolah.
Anorganik diproses.
Material dimanfaatkan kembali.
Produk dikembangkan.
Nilai diciptakan.
Dari sinilah sistem pengelolaan sampah berbasis rantai pasok sirkular mulai dibangun di tingkat desa.
Bojongjengkol sudah mulai mengambil langkah.
Sekarang, desa lain kapan?















