Bogor — Sekelompok mahasiswa IPB University menciptakan program pendampingan psikososial bernama METAMORFOSIS, sebuah inisiatif yang dirancang untuk membangun ruang aman bagi ibu dan anak penyintas kanker dalam mengenali, menerima, dan mengekspresikan emosi mereka selama masa pengobatan di rumah singgah. Program ini lahir dari skema Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM).
Berangkat dari Beban Emosi yang Sering Terabaikan
Selama menjalani pengobatan kanker, ibu dan anak tidak hanya bergulat dengan rasa sakit fisik, tetapi juga tekanan emosional yang kompleks. Sayangnya, ruang untuk mengekspresikan perasaan tersebut kerap kali minim tersedia, sehingga berpotensi memperberat kondisi psikologis dan turut memengaruhi proses penyembuhan secara keseluruhan. Melihat kondisi itu, tim mahasiswa IPB University menginisiasi METAMORFOSIS sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut — sebuah program yang mengajak ibu dan anak untuk perlahan “bermetamorfosis” dari rasa takut dan tekanan emosi menjadi kekuatan baru dalam menghadapi tantangan hidup.
Tiga Kegiatan Utama, Satu Tujuan: Ruang Aman untuk Merasa
Program ini mengemas pendekatan psikoedukasi melalui tiga kegiatan utama yang menggabungkan unsur kreativitas dan edukasi:
1. Cerita Kita
Permainan kartu emosi yang mengajak ibu dan anak mengenali berbagai perasaan — bahagia, sedih, marah, hingga takut — melalui cerita-cerita sederhana. Lewat permainan ini, peserta diajak memahami bahwa setiap emosi adalah hal yang manusiawi dan layak diakui.

2. Sapa Hatimu
Kegiatan ekspresi diri melalui media kolase dan clay. Ibu dan anak dituntun menuangkan perasaan mereka ke dalam karya seni yang konkret, sekaligus menjadi jembatan dukungan emosional antara keduanya.
3. Jurnal METAMORFOSIS
Ruang refleksi harian berupa jurnal yang membantu ibu dan anak mengenali pola emosi mereka sendiri, sekaligus melatih strategi coping yang lebih adaptif dari waktu ke waktu.

Dampak yang Mulai Terlihat
Hasil evaluasi awal menunjukkan bahwa rangkaian kegiatan METAMORFOSIS memberikan dampak positif terhadap kemampuan emosional ibu dan anak yang terlibat. Peserta dilaporkan menjadi lebih peka terhadap perasaan masing-masing, mampu membangun interaksi yang lebih suportif satu sama lain, serta lebih terbuka menyalurkan perasaan tanpa rasa takut dihakimi. Tim menyebut, penguatan kesadaran emosional semacam ini menjadi fondasi penting bagi dyadic coping — kemampuan ibu dan anak untuk saling membantu menghadapi tekanan psikologis secara bersama-sama selama masa pengobatan berlangsung.

Lebih dari Sekadar Kegiatan Kreatif
Bagi tim mahasiswa IPB di balik METAMORFOSIS, program ini bukan sekadar aktivitas seni atau permainan biasa. Ia dirancang sebagai ruang vital yang menempatkan kesehatan mental sebagai bagian tak terpisahkan dari proses penyembuhan pasien kanker dan keluarganya. Melalui pendekatan yang humanis dan berbasis empati ini, METAMORFOSIS diharapkan dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi upaya-upaya lain dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional keluarga di tengah masa-masa sulit mereka.














