Kolaborasi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB University) berhasil menghadirkan inovasi teknologi pangan berkelanjutan melalui ajang Kompetisi Mahasiswa Nasional Bidang Ilmu Bisnis, Manajemen, dan Keuangan (KBMK) 2026 bidang Perencanaan Bisnis. Tim yang terdiri dari Muh. Dzulfaiq Abrar (K1401241177), Muhammad Alwannuzully Ramadhan (G4401241093), dan Putu Meita Pridayanti (F3401241006) mengembangkan inovasi bernama FRESH-UP.

FRESH-UP merupakan patch antibakteri pH-responsive berbasis limbah bekatul yang dirancang untuk mengurangi risiko food loss pada distribusi daging merah. Inovasi ini menggabungkan teknologi kemasan aktif (active packaging) dan kemasan cerdas (smart packaging) melalui pemanfaatan hidrogel kitosan, senyawa antibakteri, serta indikator perubahan pH untuk mendeteksi penurunan kualitas daging secara real-time.
Mengubah Limbah Bekatul Menjadi Teknologi Pangan Bernilai Tambah

Ide FRESH-UP berangkat dari permasalahan meningkatnya kebutuhan protein nasional yang diiringi dengan tantangan dalam menjaga kualitas daging merah selama proses distribusi. Kondisi geografis Indonesia, infrastruktur logistik yang belum merata, serta iklim tropis menyebabkan produk daging yang bersifat mudah rusak memiliki risiko tinggi mengalami penurunan mutu akibat aktivitas mikroorganisme. Melalui permasalahan tersebut, tim menghadirkan solusi berupa patch antibakteri yang mampu memberikan perlindungan sekaligus memantau kondisi daging. FRESH-UP memanfaatkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah limbah bekatul sebagai bagian dari bahan inovasi untuk menghasilkan teknologi pangan yang lebih berkelanjutan.
Muh. Dzulfaiq Abrar menjelaskan bahwa FRESH-UP dirancang agar mampu merespons perubahan kondisi daging selama distribusi.
“FRESH-UP hadir sebagai solusi untuk mengurangi food loss dengan menghadirkan sistem perlindungan yang tidak hanya aktif menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi juga mampu memberikan informasi kondisi produk secara langsung melalui perubahan indikator warna,” ujarnya.
Teknologi Responsif untuk Menjaga Kesegaran Daging

Keunggulan utama FRESH-UP terletak pada mekanisme pH-responsive yang memungkinkan produk memberikan respons sesuai kondisi aktual daging. Ketika terjadi peningkatan pH akibat aktivitas bakteri pembusuk, sistem akan memicu pelepasan agen antibakteri secara terkontrol untuk membantu mempertahankan kualitas produk. Selain itu, FRESH-UP menggunakan indikator visual berbasis ekstrak kulit buah naga yang berfungsi memberikan tanda perubahan kondisi kesegaran daging. Dengan pendekatan tersebut, pengguna dapat melakukan pemantauan kualitas tanpa harus membuka kemasan secara berulang yang berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi.
Muhammad Alwannuzully Ramadhan mengungkapkan bahwa inovasi ini menjadi upaya mahasiswa dalam menghadirkan teknologi yang aplikatif bagi sektor pangan.
“Kami ingin menghadirkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai teknologi, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi rantai pasok pangan Indonesia melalui pengurangan kehilangan produk selama distribusi,” jelasnya.
Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, FRESH-UP juga memiliki nilai ekonomi dan lingkungan. Pemanfaatan limbah bekatul sebagai bahan inovasi mampu memberikan nilai tambah terhadap hasil samping pertanian yang selama ini belum optimal dimanfaatkan. Dari sisi bisnis, FRESH-UP dikembangkan dengan konsep business-to-business (B2B) yang menyasar produsen dan distributor daging merah sebagai pengguna utama. Produk ini dirancang untuk membantu pelaku industri mengurangi kerugian akibat kerusakan produk selama proses penyimpanan dan distribusi. Berdasarkan analisis kelayakan bisnis yang dilakukan tim, FRESH-UP memiliki potensi pengembangan melalui indikator finansial seperti Return on Investment (ROI), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), serta periode pengembalian modal (payback period).
Putu Meita Pridayanti menambahkan bahwa inovasi ini menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan pangan berkelanjutan.
“Kami berharap FRESH-UP dapat menjadi salah satu solusi inovatif dalam menjaga kualitas pangan, mengurangi limbah, serta memperkuat sistem distribusi protein nasional yang lebih efisien dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Melalui inovasi FRESH-UP, mahasiswa IPB University menunjukkan bahwa pengembangan teknologi pangan dapat menjadi solusi strategis dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Penulis: Putu Meita Pridayanti














